Fitriati, Kades Perempuan Pertama di Marangkayu yang Jadi Inspirasi Kartini Kukar

image

Kutai Kartanegara— Kepemimpinan perempuan di tingkat desa semakin mendapat tempat di Kabupaten Kutai Kartanegara. Salah satu contohnya adalah Fitriati, Kepala Desa Perangat Baru, Kecamatan Marangkayu, yang dinilai sukses menghadirkan perubahan nyata di wilayahnya.

Atas dedikasinya, Fitriati mendapat apresiasi dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kukar dalam rangka peringatan Hari Kartini, 21 April 2025 lalu. Ia dinobatkan sebagai salah satu sosok inspiratif dari kalangan perempuan di Kukar yang mampu memimpin dan memberdayakan masyarakat.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur atas penghargaan ini. Semoga bisa membawa manfaat bagi warga Desa Perangat Baru,” ucap Fitriati saat ditemui Selasa (3/6/2025).

Perempuan milenial ini dikenal memiliki latar belakang sebagai tenaga kesehatan. Ia meninggalkan kenyamanan hidup di kota dan memilih untuk mengabdi di desa, dimulai dari pelayanan kesehatan secara sukarela hingga dipercaya memimpin desa secara administratif.

Di bawah kepemimpinannya, Desa Perangat Baru berkembang pesat, bahkan dikenal luas sebagai sentra produksi kopi luwak. Produk kopi unggulan desa ini kini telah menembus pasar nasional hingga internasional, menjadi salah satu contoh keberhasilan pemberdayaan ekonomi lokal berbasis potensi desa.

Fitriati juga mendorong perempuan lainnya di desa agar tidak hanya berperan di lingkup domestik, tetapi juga aktif dalam pembangunan desa. “Harapan saya, semua Kartini di Kukar, khususnya di Perangat Baru, bisa bersinergi untuk mendongkrak ekonomi masyarakat. Kita tidak boleh hanya berpangku tangan,” katanya.

Menariknya, Fitriati merupakan satu-satunya kepala desa perempuan di Kecamatan Marangkayu. Meski begitu, ia mengaku tidak menghadapi tantangan berarti dalam menjalankan amanah tersebut.

“Tidak ada yang rumit. Semua kepala desa di Marangkayu saling mendukung dan sudah seperti keluarga. Saya tidak merasa dikucilkan, karena kami semua diperlakukan sama,” jelasnya.

Kisah Fitriati menjadi bukti bahwa perempuan memiliki kapasitas besar dalam memimpin dan membawa perubahan, terlebih di tengah masyarakat pedesaan. Kepemimpinan yang inklusif dan kolaboratif inilah yang diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak perempuan untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah.(adv/diskom/aw)

Peringatan Plagiarisme
Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga 4 Miliyar.
  • Tags:

0 Comments:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *